RSS

Idioms with Colours

5 idioms with colours

Hello!

How are you doing?

I hope everything is going fantastically.

Today we’re going to look at some idioms in English which all contain the colours red or blue, two of my favourite colours. I will give you their meanings and a sample sentence for each idiom.

to see red: to suddenly become very angry

Here is an example:

When he laughed in my face I saw red and hit him.

to catch someone red-handed: to catch someone in the act of doing something wrong (private or illegal)

For example, I caught my sister red-handed reading my diary.

in the red (informal): in debt, owing money. “in the red” can refer to a person or the person’s bank account.

Example: I don’t understand why he’s always in the red as he has a very good job.

Now that we’ve looked at three idioms containing the word “red”, let’s look at a couple more containing the word “blue”.

once in a blue moon: very rarely, hardly ever

Here is an example:

When I was younger I used to go the cinema about once a month but now I go once in a blue moon.

out of the blue: unexpectedly

I hadn’t heard from my old workmate in years when one day I received a letter from her out of the blue

Have a wonderful weekend. 🙂

Best regards,

FD-message
officeII03.04.16II10:37am

Advertisements
 
 

Tags: ,

How to use “else” correctly

Hello!

I hope you are well today.

Have you ever heard anyone using the word “else” in English before and wondered how to use it correctly?

Today I’ll show you exactly how to use it and in what situations.

First look at this dialogue between two people, Mark (M) and John (J):

M: Good morning, John. Are you coming to the meeting this afternoon?
J: Yes, I think so. Is anybody else coming?
M: Yes, Sheryl and Chris will be there too.
J: The boss told me that I had to invite everyone from this floor. Have I forgotten anyone else?
M: No, that’s everyone. What else did the boss tell you?
J: Nothing else except that I should contact him if something else goes wrong again then we won’t have to have the meeting.

Let’s look at the rules: else can mean other or more after the following words:

somebody, someone, something, somewhere, anybody, anyone, anything, anywhere

everybody, everyone, everything, everywhere, nobody, no one, nothing, nowhere

Look at some examples from the above text:

Is anybody else coming?

Have I forgotten anyone else?

If something else goes wrong again…

else can also mean more after words like “who”, “what”, “why”, “when”, “where”, “how”, “whoever”, “whatever”, etc.

For example,

Apart from sugar, butter and eggs, what else do you need to make a cake?

Who else shall we invite to the wedding?

Remember that “else” comes directly after the word and modifies it.

I hope this has helped you understand the use of “else” correctly.

Have an awesome weekend!

All the best

 
Leave a comment

Posted by on April 2, 2016 in ABAENGLISH, ENGLISH, HOME

 

Tags: ,

Aside
How to improve your memory

Hello!

I hope you are having a fantastic week.

Today I want to talk about an important aspect of learning a new language: memorizing vocabulary. It can be boring and not much fun, but sooner or later a little bit of memorizing can really help.

So I want to share 5 tips on improving your memory:

1. Sleep! – When you’re sleep deprived, your brain doesn’t work properly. Sleeping is critical to learning and memory because in the deep stages of sleep, the brain does a lot of work related to memory.

2. Laugh – Laughter is the best medicine, right? Enjoying a joke with a friend, for example, is a great way to boost learning and creativity. The happier you are, the better you think!

3. Don’t worry,… meditate! – Meditation produces more activity in the left prefrontal cortex of the brain, which is the part that makes you happy. It also creates more connections in the brain. And more connections in the brain mean better mental ability and memory.

4. Eat healthy food! – A good diet with lots of fruit and vegetables provides lots of health benefits, including a better memory.

5. Exercise your brain! – Memory is like a muscle: the more you use it, the stronger it gets. Activities that use your hands, for example, are fantastic. Try playing an instrument, juggling or playing ping pong.

Graham-Friday Message

12:15pm || KotaHujan || Office

How to improve your memory

 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2015 in ABAENGLISH, EDUCATION AND KNOWLEDGE, ENGLISH

 

Tags: , , ,

Aside
🍃INTERAKSI Ikhwan dan Akhwat di “Grup” 🍃

⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠

🍃INTERAKSI Ikhwan dan Akhwat di “Grup” 🍃

👣Terdengar biasa memang ketika para ikhwah berdiskusi dan saling respon terhadap anggota di dalam grup itu.

💃🏻Tanpa disadari emosi kita berperan di situ, mampu merasakan respon yg biasa2 saja, serius, canda’an atau bahkan sindiran.

📝Tak jarang ketika sedang ngetikpun (u/ menanggapi) kita sering senyum2, marah, serius/lainnya tergantung suasana grup saat itu.

🚦Tapiiii pernahkah kita membayangkan dampak dari interaksi itu ketika kita kurang bisa memposisikan diri sebagai kaum akhwat (tanpa disadari kita sering terbawa arusnya)

🎎 Interaksi antara ikhwan dan akhwat dalam suatu grup,,, saling tanggap menanggapi memang tidak masalah selama tanggpan itu tidak menimbulkan hal2 “aneh” yg mengundang “perasaan” kaum ikhwan,

📤Ketika si akhwat merespon dengan biasa2 saja maka tanggapan orang yang membacanya (fokus:ikhwan) biasanya akan biasa2 saja dan begitupun dengan emosinya,

⛅Tapi pernahkan kita membayangkn dampak setelahnya jika antar ikhwan dan akhwat saling respon secara berlebihan, post emotikon dan kata2 tambahan yang tidak perlu..

🏃🏻💨 Misal dengan candaan mungkin, karena kurang “mengerem” emosinya, jadi candaan yang dilontarkan seperti interaksi antar akhwat yg tanpa batas padahal kita sedang berinteraksi dengan ikhwan.

🎭Emosi bermain di sini, kita tak pernah tau bagaimana perasaan si ikhwan (terlebih dengan ikhwan yang dituju) tapi coba bayangkan mungkinkah timbul persepsi dari si ikhwan tentang akhwat tersebut?

🎥”Ternyata si fulanah asal nyaplok yah, ngomongnya seenaknya sendiri, dan bahkan yg lebih mengkhawatirkan ketika timbul perasaan ini; “si fulanah orgnya humoris juga ya, assik diajak komunikasi, bawaannya enjoy ajah kalo komunikasi sama si fulanah (meskipun di grup), saya ngarasa cocok ajah sama si fulanah”

🚷Ketika post sesuatu di grup si ikhwan mengecek siapa sj yg repon, didapatinya ternyata si akhwat (a) belum respon, bisa saja timbul perasaan “akhwat (a) ko gak respon ya, kmna?apalagi sibuk? Tapi sy liat dia “read” ko, apa ada yg slh dg postingan saya ya”? Apa dia marah ya dg candaan kemarin d grup??… (dan kita tak tau imajinasi apalagi yg terbayang dibenak kaum ikhwan)

🎭Pun bisa saja berlaku kondisi sebaliknya pada diri akhwat terhadap ikhwan.Allahu a’lam

🍭Tapi yg jelas semua emosi itu terbawa dari segala respon yg kita lakukan, ini baru di grup apalagi ketika komunikasi ini via jaringan pribadi!

⚠Meskipun topik diskusnya organisasai mari kita berhati2 dalam merespon, berbicara seperlunya.

🚸Lakukan langkah preventif agar tidak terlampau jauh emosi dan perasaan yang ditimbulkannya.

📍Tidak ada kata terlambat, yang kemarin biarlah sebagai pembelajaran, karena kekhilafan dan ketidak ngertian kita (mngkin sj tahu tapi blm trfikirkan dampaknya ke arah situ)

🌱Berawal dari hal kecil inilah akan timbul hal besar yang terakumulasi.

❓apakah ini mengada2 atau persepsi alay semata?selagi baik bisa meminimalisir hal besar kenapa tidak kita lakukan??😙

🎍Mohon maaf atas khilaf dan salah, mari saling mengingatkan 😊

✨Khairunnas Anfa’uhum Linnas

Mari kita bantu kaum ikhwan untuk tidak memiliki persepsi seperti hal di atas.

“Sepertinya butuh klarifikasi dari kaum ikhwan terkait hal ini nih.. heheh, siapapun anda yang membaca ini terutama kaum ikhwan mangga di respon, afwan jika merasa tersudutkan, semata-mata hanya untuk saling mengingatkan. hehe” 🙂

Dalam heningnya malam, hati dan perasaan ini merasa tak tertahankan untuk menuangkan tulisan ini yang sebenarnya sudah lama ingin dituangkan lantaran merasa miris dengan diri sendiri dan miris terhadap saudaraku, saudara muslimah.

Setelah membaca percakapan di grup semalam, bukan kecewa tapi membayangkan diri sendiri yang melakukan hal itu karena ketidak mengertian diri ini, karena ketidak sadaran diri ini bahwa segala yang kita lakukan akan menjadi boomerang bagi diri sendiri, meskipun kita merasa itu hal sepele. Langsung hati ini tak tertahankan merasa “harus melakukan sesuatu”.

KotaHujan II 1.00AM II pertama kali publish di grup “A***** Muslimah”  🙂

uwi

🍃INTERAKSI Ikhwan dan Akhwat di “Grup” 🍃

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2015 in ISLAMIC

 

Tags: ,

Aside
Bagaimana Mengistiqomahkan Semangat Dakwah

Tulisan ini sebetulnya notula dari Forum Diskusi Bersama Alumni DKM DI IKOPIN, tema yang diambil saat itu spontan yang diurai dari issue yang dibuka oleh salah satu anggota forum. Mencoba untuk berbagi dan berinteraksi semoga bermanfaat 🙂

“Bagaimana Mengistiqomahkan Semangat Dakwah”

Kata “Istiqomah” secara bahasa berarti : Tegak dan Lurus

Sedangkan secara Istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :

  1. Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu : “Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga”.
  2. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu : “Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang”.
  3. Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu : “Istiqomah artinya ikhlas”.
  4. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu : “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban”.
  5. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu : “Istiqomah mengandung 3 macam arti : Istiqomah dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
  6. Ar Raaghib : “Tetap berada di atas jalan yang lurus” [istiqomah, Dr. Ahmad bin Yusuf Ad Duraiwisy, Darul Haq].
  7. Imam An Nawawi : “Tetap alam ketaatan” (Kitab Riyadhus Shalihin). Sehingga Istiqomah mengandung pengertian : “tetap dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.
  8. Mujahid : “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Taala”.
  9. Ibnu Taimiah : “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”. Dengan kata lain istiqomah mengandung suatu arti mendalam dalam beribadah kepada-Nya, mencintai sepenuh hati dalam mencari Ridha-Nya.

“Seseorang yang istiqomah memiliki pendirian yang stabil dalam menuju Ridha Allah. Dia tidak tergoyahkan oleh usia, lingkungan atau ujian dan cercaan. Dia bagaikan karang yang melawan tempaan ombak.” (oasetarbiyah)

Istiqomah adalah kondisi dimana kita dapat melakukan hal secara terus menerus yang diiringi dengan evaluasi, peningkatan kualitas diri, sehingga timbul motivasi untuk terus memperbaiki diri, kalau kata dosen manajemen saya mah continuous improvement hehe

Mengapa Engkau Menangis Ya Rasulullah?

“Wahai Rasullullah… Bukankah mayat yang diusung itu adalah seorang Yahudi? Dia bukan seorang Muslim Ya Rasulullah.. Mengapa kau menangis?”, tanya seorang sahabat kepada baginda.

“Aku menangis karena tidak dapat membawanya ke arah iman. Aku tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka Allah Subhanahu Wataa’la.”, jawab Nabi SAW.

Begitu cintanya beliau dengan sesama makhluk Allah, bahkan dengan Yahudi sekalipun yang sudah jelas-jelas menyekutukan Allah, apalagi kecintaan beliau dengan keluarganya, sahabatnya dan bahkan Ummat beliau, karena CINTANYA yang begitu besarlah Nabi selalu istiqomah mengemban amanah Allah, istiqomah dalam memerangi kejahiliyahan manusia. Cercaan dan makian serta fitnah tak luput dari kehidupan beliau namun beliau sangat istiqomah bahkan dengan nyawanya sekalipun beliau pertaruhkan.

Bisakah sahabat membayangkan, apa jadinya jika Rasulullah tidak istiqomah???…..

Lantas… alasan apalagi yang membuat kita tidak istiqomah??ujian kita tak sebanding dengan ujian yang dialami oleh baginda Rasul, jauuuuhh lebih berat dari ujian kita.

Apa Penyebab Futur dan Lunturnya Semangat Dakwah?

kepedulian kita terhadap sesama dan lingkungan menyadarkan kita untuk selalu beristiqomah di jalanNya, namun perjalanan itu tak semulus yang kita harapkan adakalanya kerikil-kerikil itu pasti datang menghampiri bahkan bertubi-tubi hingga pada klimaksnya kita akan mengalami kondisi dimana kejenuhan dan keputusasaan itu datang, yah… kondisi futur memang telah hinggap, namun apakah akan kita biarkan begitu saja?kondisi futur yang terus menurus akan mengerogoti semangat dakwah kita bahkan iman kita?? STOP. (berasa ngerem mendadak.hehehe). Sebenarnya terkadang kita tidak dalam mengalami kondisi futur, hanya saja kejenuhan akan sesuatu hal yang menyebabkan kita lelah dan bosan sehingga tidak bersemangat. Lunturnya semangat dakwah tak hanya datang dari internal saja namun faktor eksternal juga sangat berperan, kekecewaan akan sistem yang dijalankan, ekspektasi yang tinggi terhadap makhluk Allah, sehingga timbul ketidakterimaan terhadap “kesalahan” yang dilakukan oleh kader dakwah, begitu terpengaruhnya kita terhadap lingkungan dan perkataan orang lain juga salah satu penyebab lunturnya semangat.

Bagaimana menumbuhkan dan Mendawamkan semangat Dakwah?

Sebenarnya ada banyak cara untuk menumbuhkan semangat dan kemudian mendawamkannya, cara setiap orangpun berbeda-beda, menyendiri dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah bisa menjadi salah satu alternatif, mencari suasana baru, jalan santai menikmati karunia dan kebesaran Allah.

Berikut adalah kita agar tetap istiqomah:

  1. Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar,Allah Ta’ala berfirman,
    يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

    Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
    Tafsiran ayat “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh …” dijelaskan dalam hadits berikut.

    الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِى الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ ( يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ )

    Jika seorang muslim ditanya di dalam kubur, lalu ia berikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka inilah tafsir ayat: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.9

    Qotadah As Sadusi mengatakan, “Yang dimaksud Allah meneguhkan orang beriman di dunia adalah dengan meneguhkan mereka dalam kebaikan dan amalan sholih. Sedangkan di akhirat, mereka akan diteguhkan di kubur (ketika menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, pen).” Perkataan semacam Qotadah diriwayatkan dari ulama salaf lainnya.10

    Mengapa Allah bisa teguhkan orang beriman di dunia dengan terus beramal sholih dan di akhirat (alam kubur) dengan dimudahkan menjawab pertanyaan malaikat “Siapa Rabbmu, siapa Nabimu dan apa agamamu”? Jawabannya adalah karena pemahaman dan pengamalannya yang baik dan benar terhadap dua kalimat syahadat. Dia tentu memahami makna dua kalimat syahadat dengan benar. Memenuhi rukun dan syaratnya. Serta dia pula tidak menerjang larangan Allah berupa menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, yaitu berbuat syirik.

  2. Mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya,Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,
    قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

    Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. An Nahl: 102)
    Oleh karena itu, Al Qur’an itu diturunkan secara beangsur-angsur untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat dalam ayat,

    وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا

    Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al Furqon: 32)
    Al Qur’an adalah jalan utama agar seseorang bisa terus kokoh dalam agamanya.  Alasannya, karena Al Qur’an adalah petunjuk dan obat bagi hati yang sedang ragu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

    هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

    Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushilat: 44). Qotadah mengatakan, “Allah telah menghiasi Al Qur’an sebagai cahaya dan keberkahan serta sebagai obat penawar bagi orang-orang beriman.” Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, “Katakanlah wahai Muhammad, Al Qur’an adalah petunjuk bagi hati orang beriman dan obat penawar bagi hati dari berbagai keraguan.”14
    Oleh karena itu, kita akan saksikan keadaan yang sangat berbeda antara orang yang gemar mengkaji Al Qur’an dan merenungkannya dengan orang yang hanya menyibukkan diri dengan perkataan filosof dan manusia lainnya. Orang yang giat merenungkan Al Qur’an dan memahaminya, tentu akan lebih kokoh dan teguh dalam agama ini. Inilah kiat yang mesti kita jalani agar kita bisa terus istiqomah.

  3. Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah, Maksudnya di sini adalah seseorang dituntunkan untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsekuen dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
    أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

    Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.
    An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”16

    Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”Yaitu Ibnu ’Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam.

    Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,

    يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

    Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”

    Selain amalan yang kontinu dicintai oleh Allah, amalan tersebut juga dapat mencegah masuknya virus ”futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada hamba-hambaNya, menguatkan kita untuk terus istiqomah dijalan Dakwah.

*jika berkenan mohon review dan koreksiannya 🙂

Jazakallah atas semuanya,

Mohon maaf atas khilaf dan salah 🙂

KotaHujan II 10:39PM

sumber:

  1. Notula Diskusi Bersama Alumni DI IKOPIN 26.09.2015
  2. http://hijau-lumut.blogspot.co.id/2009/09/sering-kan-kita-mendengar-kata.html
  3. http://rumaysho.com/731-kiat-agar-tetap-istiqomah-seri-1.html

Bagaimana Mengistiqomahkan Semangat Dakwah

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2015 in ISLAMIC

 

Tags: , , ,

Akhirnya, Saya haramkan beasiswa LPDP untuk diriku dan keluarga kecilku

catatan khabib khumaini

Disclaimer:

  1. Saya memaksakan keyakinan ini kepada diri saya dan keluarga kecil saya, bukan untuk orang lain. Kenapa? karena saya bukan ulama sehingga saya tidak berhak memberikan suatu fatwa, apalagi menyangkut halal-haram.
  2. Bagi yang mempercayai kebenaran tulisan ini, maka tolong dicek  lagi sumber asli nya sehingga keyakinan tersebut menjadi semakin kuat dan diberi kekuatan Allah menjalani konsekuensinya.
  3. Bagi yang tidak mempercayai maka silahkan mencari sumber yang lebih terpecaya, syukur2 bisa bertanya langsung ke ulama. Tentu kita harus memberikan informasi yang akurat kepada ulama tersebut. Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang terbaik.

Permintaan Maaf

Saya menghapus chat history whatsapp terkait percakapan teman saya dengan manajemen LPDP. Hal ini disebabkan saya tidak meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan, apalagi nama inisal dan sapaan tercantum di chat tersebut dan yang bersangkutan menganggap chat yang saya sampaikan tidak lengkap karena instrument tersebut. Saya meminta maaf kepada yang bersangkutan dan pembaca atas perbuatan saya…

View original post 1,308 more words

 
2 Comments

Posted by on July 30, 2015 in HOME

 

Kau Campakkan AKU Setelah Inginmu Tercapai

Kau Campakkan AKU Setelah Inginmu Tercapai

Bismillah…

Seringkali diantara kita semangat untuk memperbaiki diri dikarenakan ada cita-cita atau mimpi yang akan kita capai baik dunia ataupun akhirat.

Banyak diantara kita atau lingkungan kita ketika musim ujian nasional para orang tua ataupun siswa bersamaan menggiatkan shaum sunnah, sholat malam dan ibadah lainnya, namun setelah diumumkan hasil ujian apakah rutinitas ini akan terus diamalkan?apakah ibadah ini dibenarkan?

Saya tidak bisa menjawab apakah ini benar atau tidak, ini hanya renungan untuk kita semua

Saat seorang pemuda/i mendambakan istri/suami yang ia idamkan (red: sholeh, sholehah, cakep, kaya, pebisnis, dan sederet angan-angan lainnya) lantas pemuda ini bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri Sholat tepat pada waktunya, rajin melaksanakan Sholat Duha, rajin Sholat Malam, Shaum sunnah gak ketinggalan, rajin ke pengajian, namun setelah impiannya tercapai (mendapatkan istri/suami idaman) apakah semangat ini akan berlanjut setelahnya??

fenomena pemuda ini yang ingin saya soroti, agak greget juga ngeliatnya merasa gak terima kalo Allah diperlakukan seperti itu, ibarat peribahasa “habis manis sepah dibuang” pemuda itu menyadari bahwa semua terjadi karena kehendak Allah, makanya Ia menggenjot frekuensi Ibadahnya lantas setelah apa yang ia inginkan terpenuhi…. dengan mudahnya pemuda ini mencampakkan frekuensi itu, dengan drastis menurunkannya.. Astaghfirullah semoga ini hanya konklusi dari yang terlihat saja tidak dari dalam diri pemuda itu.

Yah… nampak adanya perubahan setelah semua itu terjadi meskipun tidak semua berubah namun hal yang “krusial” dengan mudahnya ia lakukan.. Sholat yang awalnya tepat pada waktunya (setidaknya lewat sedikit) ia lakukan diakhir waktu, mungkin pemuda ini lupa waktu karena banyak hal yang ia kerjakan atau ketiduran atau alasan lainnya, okkeh.. apakah lupa waktu itu bisa terjadi secara terus menerus??? rasa-rasanya tidak begitu…

Mari kita renungkan bersama-sama, hakikat kita didunia untuk apa?hanya untuk beribadah KepadaNya

Mari kita dawamkan ibadah kita untuk selalu mendapat RidhoNya dan menggapai SurgaNya kelak,

Setiap detik ini adalah nikmat dan anugrah Allah, jadi tak sepatutnya kita berhenti untuk memperbaiki setelah apa yang kita inginkan tercapai,

Allah Maha Tahu apa yang kita BUTUHKAN bukan apa yang kita INGINKAN.

Jadilah orang CERDAS menurut Rasul,

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah)

Setiap orang memiliki masalalu kelam ataupun tidak ia behak atas masa depan yang cerah, siap yang bisa mengubah ini??

Mari kita saling koreksi diri dan memantaskan diri dihadapanNya,

Semoga kita senantiasa Istiqomah dijalanNya.

10.26AM II Office II KotaHujan

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2015 in HOME, ISLAMIC

 

Tags: , ,

 
%d bloggers like this: